Senin, 21 Desember 2015

Puisi Dia



Kembalikan senyumku


Langit berawan menaungi kota ini
Bagai mengerti kelam dalam hati
Tak ada sedikitpun senyum menghiasi
Tak ada tawa ceria dan semangat ,
Tak akan pernah ada tanpamu

Sore ini ku tempuh jalan panjang
Tak ku hiraukan rintik hujan
Ku sembunyikan air mataku disetiap tetesannya
Ku abaikan dinginnya udara menusuk dalam kulit
Ragaku disini tapi jiwaku, entah dimana

Sayang...
Aku tak sanggup tanpamu...
Jangan kau diam membisu begini
Lebih baik kau pukul aku, kau maki aku
Sayang...
Aku selalu mencinta dengan tulus
Baik dengan masa lalu,
Ataupun kini dengan mu

Aku memang tak sempurna
Jarak ini memang menyiksa
Seribu godaan merajalela, menguji kesabaran kita
Tapi aku selalu memegang janji kita
Tetap setia menanti takdir menyatukan kita

Sayang, jangan kau abaikan aku
Jangan kau diam seribu bahasa
Aku tak sanggup menghadapi kebungkaman mu
Sayang, katakan sesuatu...
Caci aku, maki aku!
Asal jangan kau diamkan aku seperti ini

Sayang buatlah langit cerah
Buatlah mentari kembali bersinar
Kembalikan senyuman dibibirku
Senyuman yang selalu kau kagumi
Hanya dirimu yang mampu membuatku tersenyum lagi
Hanya kamu...

Saat Kau Merindunya



*when I miss You*

Matahari sudah condong ke barat, panas semakin menyengat
Seperti ingin berendam dalam lautan es
Tapi aku tahu itu akan membekukan tubuhku, bahkan hingga darahku
Jika tubuhku kaku membeku, hanya satu yang mampu membuatnya lentur kembali 
Pelukan kekasihku...

Siiaaal...! 
Kekasihku tak disini, bagaimana aku memeluknya?
Tentu aku tak berani berendam dalam lautan es
Tapi panas di gurun rindu ini semakin menjadi
Hatiku kering, aku semakin haus
Aku ingin meneguk segelas cinta dan kasih sayang,
Dari kekasihku...

Ketika kau mengaguminya

*Rie*


Seperti wangi bunga yang dikagumi hampir oleh semua manusia, 
Seperti itu pula gambaran aku mengagumi dirinya
Selalu terpancar keindahan dari raut wajahnya
Sorot matanya selalu berhasil membuatku terpana
Jika tepat aku dihadapannya, tak bisa kutahan hasrat untuk tak mengecup bibirnya

Pelukannya adalah tempat paling nyaman
Hangat tubuhnya mampu membakar semua keraguan
Senyumnya adalah keindahan yang tiada duanya
Senyum yang membawa ketenangan
Senyum yang membuat aku tak henti-henti mengagumi dirinya

Dialah yang pertama, yang membuatku percaya cinta itu ada dan nyata
Yang dulu aku pikir cinta itu hanya omong kosong
Sebab banyak hati yang patah terbelah-belah hanya karena satu kata
Cinta...

Sekarang aku memilikinya, cintanya pun kini milikku
Akan selalu aku genggam,
Takkan kulepas, takkan kubiarkan pergi
Aku ingin akhir yang indah untuk kisah kami



Minggu, 20 Desember 2015

Puisi Untukmu

DE  jAVU

Hai.... Gadis,

Sepertinya kita pernah bertemu tapi aku lupa, dimana

Mungkin dalam mimpiku atau dikehidupan masa lalu

Entahlah, yang pasti sepertinya aku mengenalmu

Apakah kita pernah berjumpa sebelumnya?

Apakah kita pernah bercinta sebelumya?


Hari ini sangat tak asing bagiku,

Mungkinkah aku sedang mengalami de javu


Belaianmu sangat lembut, membuat aku sedikit gugup

Senyumanmu begitu menawan, tak tersirat sedikitpun kesedihan

Tawamu memecahkan keheningan, suasana yang  aku dambakan

Namun aku tak terganggu


Aku damai melihat senyummu

 Aku damai mendengar tawamu

Aku damai merasakan bahagiaanmu



Sepertiya aku sedang mengulang masa lalu

Atau mungkin aku sedang mengalami de javu

Ouh...Asmara


Hanya dia yang akan kau ingat dari pagi hingga pagi lagi

Sehari tak kau dapati kabar darinya, gelisah hati setengah mati

Begitu kau mendengar suaranya, bahagia sungguh tak terhingga

Seperti itulah saat hatimu sedang tersulut api asmara



Kau tahu dia sedang dengan yang lain,cemburu membakarmu

Ingin rasanya kau katakan pada dunia, dia milikmu

Ingin rasanya seluruh manusia di bumi ini tahu, dia milikmu

Teriakkan saja...!

“Hai kalian, jangan pernah merayu...dia milikku!”



Lalu, bagaimana rasanya ketika hati sudah terlanjur membara

Ketika kau melihat dia sebagai sosok paling sempurna

Namun tak bisa kau memilikinnya



Bara itu mungkin akan padam, dingin menjadi arang

Atau rasa itu menjadi dendam, kau merasa terbuang

Malam akan menyadarkanmu bahwa dia tak seindah bintang

Pagi akan membuka matamu, dunia masih luas terbentang



Bidadari tak hanya satu, ada seribu bahkan lebih dari itu

Asmara hanya rasa yang mampir sementara tak perlu kau sesali itu

Waktu pasti akan mempertemukanmu dengan pujaan hati  yang tepat untukmu