Minggu, 10 Juli 2016

Pemancing 15 cm

Di sungai dekat hutan ada lelaki tua yang sedang memancing.Setiap hari lelaki tua itu memancing ikan ditempat itu. Bukan karena hobi melainkan demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lelaki tua itu hidup sendirian, rumahnya tak jauh dari sungai tempat dia biasa memancing. ada kebiasaan aneh yang selalu dilakukan lelaki tua itu saat memancing. Setiap kali hendak menuju sungai lelaki itu membawa alat pancing lengkap dengan umpan yang dia butuhkan dan sebuah ember untuk menampung hasil tangkapannya. Dan tentu satu benda ini tak pernah ia tinggalkan juga, sebuah kayu sepanjang 15 cm. 
Hari ini dia memancing tak sendirian, ada beberapa anak kecil yang juga sedang asik mencari ikan di sungai itu. Umpan lelaki tua itu disambar ikan, berhasil satu tangkapan pertama didapat. Lalu lelaki tua itu mengukur ikan itu dengan kayu yang dia bawa, ternyata ikan yang dia dapat terlalu besar dan panjang. Kemudian dia melepaskan ikan itu ke sungai. Kembali mata pancing dilempar ke sungai, cukup lama dia menunggu umpannya disambar ikan. Akhirnya umpannya mendapat sambaran, lagi-lagi dia mengukur ikan yang dia dapat dengan kayu itu. Kali ini ukuran ikan itu panjangnya hampir sama dengan kayunya, kemudaian ia memasukkan ikan ke dalam ember miliknya. 
Seorang anak kecil yang sedang memancing bersama teman-temannya terus memperhatikan lelaki tua itu. Setiap mendapat ikan, dia akan mengukur ikannnya dengan kayu. Jika lebih panjang dia akan melepaskan kembali ikan tangkapannya ke sungai dan jika panjangnya sama dengan kayu yang dia bawa ikan itu akan masuk kedalam embernya. Penasaran dengan perilaku lelaki tua itu, si bocah kecil mendekatinyadan bertanya.

"Pak, kenapa cuma ikan yang kecil-kecil saja yang anda tangkap? Sedangkan yang besar anda lepaskan kembali ke sungai. Biasanya kalau orang memancing dia akan senang jika mendapat ikan yang besar-besar ."
"Yang saya butuhkan ikan yang panjangnya sesuai dengan kayu ini." lelaki tua itu menjawab

Tak puas dengan jawaban lelaki tua itu dia kembali menimpalinya dengan pernyataan.

"Tapi ikan yang besar lebih enak, dagingnya lebih banyak dan lebih puas kan kalau memancing dapat ikan yang besar." 
"Di rumah saya hanya ada satu wajan untuk menggoreng ikan. Diameter wajan itu hanya sepanjang kayu ini. Jadi saya tak bisa memasak  jika ikannya lebih penjang dari kayu ini."

BREAK...
Ada yang pernah dengar nggak cerita diatas. Ya...cerita motivasi, kisah inspirasi yang kadang disampaikan untuk membuka pikiran atau menambah semangat kita dalam menjalani hidup. Yng pernah aku dengar ceritanya hanya sampai disitu, dimana lelaki tua itu menjelaskan kenapa dia hanya menangkap ikan yang kecil dan melepaskan ikan yang besar. Lantaran hanya karena dirumahnya tidak ada wajan yang besar untuk menggoreng ikan itu. Setelah ceritanya berhenti disitu sang motivator akan memberikan narasi selanjutnya, kira-kira seperti ini.
Motivator say:
"Sebenarnya lelaki tua itu bisa mengganti wajannya dengan yang lebih besar agar tangkapannya bisa lebih banyak. Namun kadang seperti itulah kehidupan manusia, terlalu asyik berada pada zona nyaman sehingga mereka enggan membuat perubahan.  Meskipun sebenarnya perubahan yang terjadi akan lebih hebat jika mereka berani keluar dari garis amannya yang sekarang."
 Kurang lebih seperti itu yang akan dikatakan, sebenarnya saya lupa hahahaaa... Cerita diatas itu terjadi pada jaman dulu, jadi si bocah itu hanya iya-iya doank ketika mendengar penjelasan dari lelaki tua itu. Bagaiman jadinya jika cerita itu kita geser dijaman sekarang, dimana anak kecil itu biasanya kepo abis. Tak puas hanya dengan satu pertanyaan dan satu penjelasan, mereka bisa mengajukan yangbermacam-macam sampai mereka lelah bertanya. Begini kira-kira lanjutan cerita diatas.

Setelah lelaki tua itu menjelaskan, si bocah kecil itu duduk disampingnya dan mengatakan banyak hal.
"Kalau anda di rumah hanya punya wajan kecil kan bisa diganti dengan wajan yang lebih besar agar ikan yang besar bisa ditangkap juga."
"Saya tidak punya uang untuk membeli wajan baru yang lebih besar."
"Kalau begitu ikan yang besar bisa dipotong-potong dulu biar bisa masuk kedalam wajannya."
"Saya tidak tega jika harus memotong-motong ikannya menjadi bagian lebih kecil."
"Tapi anda tega membiarkan ikan-ikan kecil kepanasan diwajan anda dan kemudian anda menyantapnya."
"Iya, tapi tidak harus dengan memotong-motongnya terlebih dahulu."
"Kalalu begitu selamanya anda hanya akan menangkap ikan yang kecil dan melepas ikan yang besar."
"Iya, saya hanya butuh ikan yang kecil saja bukan yang besar."
"Tapi ikan kecil akan bertelur sangat banyak, jumlah ikan disungai ini juga akan semakin banyak. kalau ikan yang kecil ditangkap lalu bagaimana."
"Ikan yang besar juga bisa bertelur kan."
"Ikan yang besar juga akan ditangkap orang-orang."
"Lalu aku harus bagaimana."
"Anda bilang ikan yang besar tidak bisa digoreng diwajan anda, jadi selanjutnya dan seterusnya anda bakar saja. tak membutuhkan wajan dan anda bisa membakar ikan besar ataupun kecil."

Lelaki tua itu meulai lelah menanggapi bocah kecil itu. Melihat hasil tangkapannya diember, ada 5 ekor didalamnya dia merasa cukap dan ingin pulang karena lelah menunggu ikan berikutnya tak kunjung menyambar umpannya. Begitupun ocehan anak kecil yang tak biasa dia dengar membuatnya semakin penat.

"5 ekor, cukuplah. aku pulang dulu. Kamu mancing lagi sana." Kata lelaki tua itu sambil beranjak pergi meninggalkan tepi sungai.
Si bocah tadipun kembali bersama teman-temannya dan menangkap ikan yang besar-besar untuk dibawa pulang.

THE END

Aku Tak Sakit Hati

Dimana lagi aku bisa menemukan rumah untuk berteduh
Jika hunianku saat ini teramat sangat gaduh
Dimana lagi bisa kutemukan kedamaian sejati
Jika tak pernah lagi ku sambung silaturahmi

Sejujurnya aku pun malu jika terus begini
Yang mereka tahu, aku anak tak tahu diri
Yang mereka tahu, hingga saat ini aku masih dirundung benci
Mereka tak akan peduli dan mengerti apa yang terjadi

Aku sadar akan apa yang seharusnya aku lakukan
Tapi masa lalu jauh lebih menyeramkan
Lebih tepatnya aku tak mampu menerima kenyataan
Sejuta mimpi yang pernah ada dalam anganku
Lenyap begitu saja

Bukan perkara sakit hati yang membuat aku seperti ini
Tapi masa laluku menyita pikiranku
Menenggelamkan semua mimpiku dalam ketakutan
Kegagalan yang pernah terjadi selalu membayangiku

Yah, mengurung mimpiku membelenggu semangatku
Aku tak pernah tahu bagaimana menjalani hidup ini
Orang tuaku tak pernah mengajariku
Mereka hanya memberiku makan agar hidup
Tumbuh dewasa dan bisa mencari uang, lalu menggantikan peran mereka
Itulah kenyataan yang tak bisa aku terima
Mereka membiarkan aku menjadi manusia yang lemah dan selalu salah