Selasa, 13 Desember 2016

The Story

Don't judge!

Aku punya orang tua, semua orang pasti punya orang tua walaupun sebagian orang mungkin tidak mengenal atau mengetahui dimana orang tuanya. Sebagian lagi harus menghadapi kerasnya hidup sendiri sejak usia kecil karena orang tuanya meninggal. Kalau aku sendiri, orang tuaku masih ada sejak aku lahir sampai saat ini. Hanya saja keduanya sudah tak bersatu lagi. Entah apa yang harus aku rasakan, senang, sedih,kecewa, marah, ceria, bersyukur atau yang lainnya. Manusia terlahir di dunia ini memang tidak bisa memilih, siapa yang mereka inginkan sebagai orang tua, di negara mana akan dilahirkan, dalam keluarga kaya atau miskin, keluarga biasa saja atau terhormat. Semua itu tak bisa dipilih karena memang bukan kuasa manusia. 
Bicara soal orang tua, aku selalu merasa bingung apakah aku ini salah atau orang tuaku yg salah. Dan bicara tentang siapa yang salah itu kaitannya dengan apa yang aku pikir selama ini dan apa yang ingin aku ungkap dalam tulisan ini. Kedua orang tuaku sudah tua (ya pasti karena aku juga sudah bukan anak-anak lagi) usia mereka sudah lebih dari setengah abad, namun sejak dulu yang aku tahu mereka hanya bertambah tua bukan bertambah dewasa dan bijaksana. Duluwaktu kita masih sama-sama satu atap mereka tak pernah berhenti bertengkar, selalu saja ada percekcokan. Sekecil apapun masalahnya selalu mereka besar-basarkan, mereka selalu merasa yang paling benar. Dan sampai saat ini mereka selalu merasa yang paling benar. Satu hal yang aku sesalkan dari kebodohan mereka dalam mempertahankan ego adalah mereka menganggap kami (anak-anak) tidak ada. Atau mungkin selama ini kami tidak dianggap sebagai manusia. Sebab mereka tak pernah sedikitpun berfikir kalau kami juga punya rasa malu dan punya hati yang bisa tersakiti. Namun sepertinya mereka tak pernah berfikir kesitu.
Dari 1001 masalah yang menghantam keluarga ini, entah hanya aku atau ketiga saudaraku juga berfikiran sama denganku. Aku selalu mencari apa penyebab dari semua ini? Pernah juga aku marah pada Tuhan karena aku dilahirkan dalam keluarga yang kacau ini. Tapi aku sadar bahwa semua ini adalah takir yang mau tak mau, suka tak suka harus aku telan bulat-bulat dan aku cerna sendiri. Aku berusaha memahami keadaan dan situasi, berusaha mengerti dan memaklumi kenapa semua ini terjadi agar aku tak lagi mencari siapa yang salah, siapa yang pantas dihukum. 
Aku memang tidak menginterview anggota keluarga besar orang tua ku untu mendapatkan informasi yang jelas karena aku bukan wartawan. Aku juga tidak membutuhkan informasi detail tentang mereka karena aku tahu itu tak ada gunanya. Pertama aku menggali informasi untuk mengetahui latar belakang bapak. Bapakku adalah bungsu dari 3 bersaudara, wajar jika dia jadi kesayangan orang tuanya. Apa-apa yang dia minta dituruti, tinggal bicara dan semua harus ada. Wajar sekali jika dia tidak bisa jadi manusia mandiri. Diusianya yang masih anak-anak dia kehilangan ayahnya sehingga sudah pasti tak ada lagi yang memberikan perhatian lebih kepadanya. Sedangkan ibunya pernah mengalami kecelakaan sehingga kehilangan penglihatannya. Sehingga dari situ jelas sudah diusia labilnya dia tidak punya sosok panutan atau figur yang bisa dia jadikan contoh untuk menghadapi kehidupannya dimasa depan. Kedua kakaknya sudah pasti sibuk dengan urusan keluarganya, maklum orang jaman dulu mateng dikit langsung nikah. Dari situ secara garis besar aku tahu bahwa bapakku sejak kecil hidup tanpa pengawasan. Sebagai remaja labil dengan lingkungan yang kurang baik tentunya tak berpengaruh baik pula baginya. Dia tidak menyelesaikan sekolahnya dan hidup kelantungan ga jelas. Cukup sampai disini aku tahu kenapa karakter bapakku seperti sekarang ini, jika aku gali lebih dalam lagi jatohnya aku menyalahkan kakek nenekku.
Yang kedua adalah memahami latar belakang ibuku. Terlahir di Jakarta dan menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja di ibukota tentunya menjadi pengalaman yang tak terlupakan baginya. Namun sayang, sejak lahir dia tak pernah bertemu siapa ayahnya, kabarnya dia meninggal saat tugas . Jujur aku punya tanda tanya besar disini, tapi itu tak penting karena misiku bukan mencari siapa yang salah tapi memahami kenapa semua ini terjadi. Hidup dengan orang tua tunggal tentunya itu adalah awal perjalanan hidup yang cukup berat baginya. Apalagi dikota besar itu tak ada kerabat disekitarnya yangbisa membantu jika keduanya dalam keadaan sulit. Sampai pada suatu hari ibunya menderita kanker yang mematikan. Mengingat kondisinya semakin melemah dia memutuskan untuk kembali kekampung halaman karena disana masih ada sisa warisan dari orang tuanya yang menjadi haknya, yang kemudian akan diberikan kepada anaknya untuk bekal hidup selanjutnya. Namun Tuhan memanggilnya terlalu cepat dan meninggalkan ibuku bersama saudara-saudara asingnya dikampung yang tak pernah dia jamah sebelumnya. Jangankan memahami wilayah itu atau mengerti akan kondisi keluarganya, bahasa dikampung baru itupun tak dia pahami. Dan lebih jahat lagi keluarga besar itu tidak memberitahu ibu jika ibunya meninggal. Ibu baru tahu beberapa hari setelah itu. Dari sini aku paham bahwa dari dulu ibuku memang selalu dibodohi. Sejak itu dia tinggal dengan pamannya, keluarga besarnya tidak menceritakan apapun tentang warisan itu. Alasannya satu, mereka ingin menguasai semua itu. OK saat itu ibuku kelas 2 SMP dan harus putus sekolah kerena keadaan itu, jadi diamasih tergolong anak-anak dan dapat disimpulkan bahwa keluarga besar ibuku telah merampas hak anak yatim piatu.  Dari sini juga gamblang sekali bahwa diusia yang masih labil ibuku juga hidup tanpa didampingi figur yang bisa mengayomi, melindungi dan bisa menjadi panutan buat dia. Ini semua adalah masalah yang sederhana tapi rumit.
Kemudian diusia yang masih muda itu bapak dan ibuku bertemu dan menikah, sebenarnya ibuku masih belum mau menikah. Tapi mungkin karena kondisi, dia numpang hidup jadi dengan terpaksa dia mau. Dan setahu ku pernikahan itu tidak disetujui oleh ibu dari bapakku, entah apa alasannya. Aku pernah mendengar ibu bercerita kepada orang lain soal itu, tanpa cerita itupun aku tahu sebab nenekku tak pernah uka dengan ibuku. Berkali-kali ibuku berusaha berbuat baik tapi ditolak oleh nenekku sampai akhirnya ibu lelah dan membiarkannya saja.  Toh, nenekku itu tak bisa melihat jadi tidak terlalu sulit menghadapi mertua yang keras seperti itu. 
Jadi dari penggalian latar belakang keduanya aku telah menarik benang merah dan jelas tidak perlu ada oknum yang perlu disalahkan. Tapi dari semua kehancuran yang udah terjadi, jelas bapakku sebagai faktor utama penyebab masalah ini yang aku anggap sebagai orang yang berdosa besar. Sampai sekarang aku enggan bertemu denganya, karena jika bertemu yang aku rasa aalah kaihan. Aku hanya tak sanggup membayangka beban dosa yang akan dia tanggung kelak diakhirat. Ibuku juga sama demikinan. Semuanya bersalah tapi tak perlu disalahkan, siapa orangnya yang mau hidup dengan dosa dan ego? Tentu tak ada, tapi kenapa terjadi pada orang tuaku? Mungkin jawabannya itu tadi, karena mereka tak punya sosok panutan dalam hidupnya. Mereka hidup sesuai dengan kemauan mereka, tak perlu menyalahkan dan tak perlu ada yang dipersalahkan. Mereka berdua saling menggoreskan luka, tanpa peduli jika pedang yang mereka gunakan juga menyayat hati anak-anaknya. 
Itu hanya secuil isu yang mengganggu fikiranku selama ini, masih banyak hal lainnya yang aku fikirkan dan belum bisa aku ungkapkan. Tapi aku akan selalu berusaha untuk mengerti, memahami dan lebih berani. Meskipun aku hidup dengan orang tua yang masih utuh hingga sekarang, aku juga bernasib sama dengan keduanya yaitu tidak memiliki sosok panutan yang baik. Tidak memiliki figur yang bisa aku contoh dan tidak memiliki seseorang yang bisa mengayomi, melindungi, dan memberikan rasa aman. Tapi aku hidup diera yang lebih baikdan lebih maju dari mereka, maka aku juga harus bisa jadi lebih baik dari mereka. Apapun yang sudah belangsung salah selama ini tak bisa aku perbaiki, maka selanjutnya akuakn menjalani hidup sesuai degan jalan hidup yang aku pilih sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar